BANGKA BARAT, beritafaktanews.id – Tingginya harga pupuk non-subsidi masih menjadi persoalan yang dikeluhkan petani kelapa sawit di Kabupaten Bangka Barat. Mahalanya harga pupuk dinilai semakin membebani biaya produksi petani, sementara harga hasil panen belum mampu mengimbangi kenaikan biaya usaha perkebunan.
Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bangka Barat, Febri Harto, mengatakan keluhan terkait harga pupuk kerap disampaikan petani dalam berbagai kesempatan.
Menurutnya, hingga saat ini komoditas kelapa sawit belum masuk dalam daftar penerima pupuk bersubsidi sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 15 Tahun 2025.
“Pupuk bersubsidi hanya diperuntukkan bagi komoditas tertentu. Kelapa sawit belum termasuk dalam daftar penerima subsidi,” kata Febri, Kamis (18/6).
Ia menjelaskan, terdapat 10 komoditas yang berhak menerima pupuk bersubsidi, yakni padi, jagung, kedelai, ubi kayu, cabai, bawang merah, bawang putih, kakao, kopi, dan tebu rakyat.
Akibat belum masuk dalam skema subsidi, petani sawit terpaksa membeli pupuk dengan harga komersial yang jauh lebih tinggi dibandingkan pupuk bersubsidi.
“Untuk komoditas kelapa sawit itu tergantung kebijakan kementerian. Kewenangan pupuk bersubsidi ada di pemerintah pusat,” ujarnya.
Meski demikian, DKPP Bangka Barat mengaku telah mengusulkan agar cakupan penerima pupuk bersubsidi diperluas sehingga dapat menjangkau seluruh komoditas pertanian, termasuk kelapa sawit.
“Kami sudah mengupayakan dan mengusulkan. Harapannya seluruh komoditas pertanian bisa mendapatkan bantuan pupuk bersubsidi,” tegasnya.
Sementara itu, petani sawit asal Mentok, Febrianda, mengungkapkan harga sejumlah pupuk non-subsidi terus mengalami kenaikan. Saat ini harga pupuk DGW dan Mutiara mencapai sekitar Rp800 ribu per karung ukuran 50 kilogram. Sedangkan pupuk NPK Pak Tani berkisar Rp450 ribu per karung dan pupuk urea sekitar Rp500 ribu per karung.
Menurutnya, kenaikan harga pupuk tidak sebanding dengan pendapatan petani dari hasil panen. Saat ini harga tandan buah segar (TBS) sawit di tingkat petani hanya berada di kisaran Rp2.400 per kilogram.
“Kalau sekali panen memang masih ada hasilnya, tetapi keuntungan yang didapat semakin tipis karena biaya produksi terus naik,” katanya.
Para petani berharap pemerintah dapat meninjau kembali kebijakan pupuk bersubsidi agar komoditas kelapa sawit rakyat juga memperoleh akses bantuan pupuk guna menjaga produktivitas dan kesejahteraan petani.
(Red)


















