banner 728x250 banner 728x250 banner 728x250
banner 728x250

banner 728x250

Misteri Hilangnya Otista, Menteri RI yang Diculik Dan Tak Pernah Kembali

banner 120x600
banner 468x60

JAKARTA, beritafaktanews.id// – Sejarah Indonesia mencatat kisah tragis seorang menteri di awal masa kemerdekaan yang nasib akhirnya penuh misteri setelah diculik kelompok bersenjata. Sosok tersebut adalah Otto Iskandar Dinata atau yang akrab dikenal sebagai Otista.

 

banner 325x300

Nama Otista kini dikenang sebagai pahlawan nasional. Wajahnya terpampang di uang pecahan Rp20 ribu dan namanya diabadikan menjadi jalan utama di berbagai kota di Indonesia. Namun, di balik penghormatan itu, akhir hidupnya justru diliputi tanda tanya.

 

Dalam buku Si Jalak Harupat, Biografi Otto Iskandardinata (2003), disebutkan bahwa Otto aktif dalam organisasi Boedi Oetomo pada dekade 1920-an. Menjelang kemerdekaan, ia turut terlibat dalam proses politik sebagai anggota BPUPKI dan PPKI.

 

Usai Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Presiden Soekarno menunjuk Otto sebagai Menteri Negara. Saat itu, kondisi keamanan Indonesia masih belum stabil dan pemerintah belum memiliki angkatan bersenjata yang terorganisasi dengan baik.

 

Otto mendapat tugas membantu pembentukan kekuatan militer nasional. Namun, tantangan besar muncul karena banyak kelompok bersenjata berasal dari latar belakang berbeda, mulai dari eks anggota PETA dan Heiho bentukan Jepang hingga bekas tentara KNIL peninggalan Belanda.

 

Perbedaan latar belakang tersebut memicu konflik dan ego sektoral. Sejumlah kelompok bersenjata menolak berada di bawah satu komando pemerintah pusat dan memilih bergerak sendiri. Situasi itulah yang kemudian menjadi awal petaka bagi Otista.

 

Pada 19 Desember 1945, Otto Iskandar Dinata diculik kelompok bersenjata bernama Laskar Hitam di wilayah Tangerang. Ia kemudian dibawa menuju kawasan pesisir Pantai Mauk dan sejak saat itu menghilang tanpa jejak.

 

Menurut buku Oto Iskandar di Nata: The Untold Stories karya Iip D. Yahya, penculikan tersebut dipicu isu yang disebarkan agen-agen NICA atau Netherlands Indies Civil Administration. Otto dituduh sebagai mata-mata Belanda, isu yang diduga sengaja dihembuskan untuk memecah persatuan bangsa.

 

Di kalangan Laskar Hitam juga berkembang kabar bahwa Otto menguasai uang sebesar satu juta gulden Belanda. Tuduhan itu dipakai untuk memperkuat narasi bahwa dirinya berpihak kepada Belanda. Padahal, menurut Iip D. Yahya, uang tersebut merupakan hasil rampasan perang Jepang yang memang berbentuk mata uang gulden Belanda.

 

Sejak penculikan itu, keberadaan Otto tak pernah diketahui secara pasti. Ia diduga telah dibunuh dan jasadnya dibuang ke laut. Karena tak pernah ada kepastian mengenai nasibnya, pemerintah akhirnya menetapkan tanggal 20 Desember 1945 sebagai hari wafatnya.

 

Tujuh tahun kemudian, pemerintah menggelar pemakaman simbolis di Bandung. Peti jenazah yang dimakamkan tidak berisi jasad Otista, melainkan hanya pasir dan air laut. Makam simbolis tersebut berada di Monumen Pasir Pahlawan

 

(R01-R12-Red-BFN).

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *