Proyek Ditarget Rampung 2030, Namun Risiko Subsidi Masih Menghantui
JAKARTA, beritafaktanews.id//— PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) mengklaim bahwa proyek hilirisasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) kini telah mencapai tingkat keekonomian yang layak untuk menggantikan impor Liquified Petroleum Gas (LPG).
Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA, Turino Yulianto, menyatakan bahwa perhitungan terbaru menunjukkan proyek tersebut sudah feasible, meskipun angka detailnya masih dirahasiakan karena proses penjajakan mitra teknologi masih berlangsung.
“Secara perhitungan sementara, kapasitas 1,4 juta ton DME setara dengan 1 juta ton LPG. Ini sudah layak sebagai substitusi impor,” ujarnya, Selasa (5/5/2026).
—
KAPASITAS BESAR, TARGET KEMANDIRIAN ENERGI
Proyek DME yang baru saja diresmikan Presiden Prabowo Subianto itu ditargetkan memiliki kapasitas produksi sekitar 1,4 juta ton per tahun dan diharapkan mampu menekan ketergantungan impor LPG secara signifikan.
PTBA juga menegaskan bahwa teknologi gasifikasi yang digunakan telah diperbarui dibandingkan proyek sebelumnya yang sempat bekerja sama dengan Air Products & Chemicals Inc..
“Teknologi sudah matang dan banyak digunakan di pasar global,” kata Turino.
Proyek ini direncanakan mulai konstruksi setelah groundbreaking pada 29 April 2026 dan ditargetkan rampung pada 2030.
—
MITRA STRATEGIS MASIH DISELEKSI
Meski optimistis, PTBA belum mengungkapkan nilai investasi maupun mitra teknologi yang akan digandeng. Saat ini proses seleksi masih berjalan dengan kandidat dari beberapa negara.
Sekretaris Perusahaan PTBA, Eko Prayitno, menyatakan bahwa evaluasi investasi dilakukan secara komprehensif untuk memastikan keberlanjutan proyek.
Ia juga memastikan sinergi dengan PT Pertamina (Persero) dalam distribusi dan pemanfaatan energi nasional.
—
KEEKONOMIAN MASIH JADI TANTANGAN
Di balik optimisme tersebut, catatan kritis muncul dari perhitungan internal sebelumnya. Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail, mengungkapkan hasil kajian konsultan Ernst & Young (EY) menunjukkan biaya produksi DME masih lebih tinggi dibanding LPG impor.
Harga DME: US$911–US$987 per ton
Asumsi pemerintah: US$617 per ton
Selain itu, kebutuhan subsidi DME juga diproyeksikan lebih besar:
Subsidi LPG: sekitar Rp82 triliun/tahun
Subsidi DME: sekitar Rp123 triliun/tahun
Selisih potensi beban negara: Rp41 triliun/tahun
“Ini menjadi tantangan utama karena harga DME masih di atas harga LPG impor,” ujar Arsal dalam rapat dengan legislatif sebelumnya.
—
DILEMA: KEMANDIRIAN VS BEBAN FISKAL
Proyek DME berada pada persimpangan strategis antara ambisi kemandirian energi dan tekanan terhadap fiskal negara.
Di satu sisi, hilirisasi batu bara dinilai mampu:
Mengurangi impor energi
Meningkatkan nilai tambah sumber daya domestik
Memperkuat ketahanan energi nasional
Namun di sisi lain, tingginya biaya produksi dan potensi lonjakan subsidi menjadi risiko serius bagi APBN jika tidak diimbangi efisiensi teknologi dan skema bisnis yang tepat.
(R01-R12-Red-BFN)


















