banner 728x250 banner 728x250 banner 728x250
banner 728x250

banner 728x250

Sedikit Kenangan tentang Alex Noerdin, Hendry Ch Bangun

banner 120x600
banner 468x60

Berita Faktanews//-
Sekjen Persatuan Wartawan Indonesia Pusat 2008–2018
Pertama kali saya mengenal Alex Noerdin ketika dipertemukan oleh Ketua Umum PWI Pusat periode 2003–2008, Tarman Azzam, di sebuah rumah di kawasan Jalan Merdeka, Palembang, tidak jauh dari pompa bensin.

Saya lupa tahun persisnya, tetapi saat itu saya diajak untuk mendengarkan keluhan Pak Alex yang menjabat sebagai Bupati Musi Banyuasin terkait pemberitaan media.

banner 325x300

Ia merasa sering diberitakan secara negatif tanpa konfirmasi dan menilai ada itikad kurang baik. Dalam diskusi itu, saya menyampaikan pandangan normatif: sebagai pejabat yang menonjol—karena prestasi Musi Banyuasin yang tercatat sebagai salah satu kabupaten dengan APBD tertinggi di Indonesia, sejajar dengan Kutai Barat, Kutai Timur, dan Kutai Kartanegara di lima besar nasional—tentu akan banyak yang tidak suka.

Terutama lawan politik dan para pendukungnya. Semakin tinggi pohon, semakin besar terpaan angin.

“Bapak biarkan saja, atau gunakan hak jawab,” kata saya. Tampaknya beliau kurang puas, berharap pemberitaan yang tidak berimbang bisa hilang. Saya jelaskan bahwa itu sulit, karena sejak Reformasi siapa pun bisa menjadi wartawan atau mendirikan media.

Namun, Pak Alex memang kemudian kerap mengundang wartawan dari Jakarta ke Sekayu maupun Palembang setelah ia menjabat sebagai Gubernur Sumatera Selatan.

Saya juga pernah berkunjung ke Sekayu bersama beberapa wartawan Jakarta untuk melihat langsung kemajuan daerah itu. Di sana terdapat lapangan terbang kecil yang kerap digunakan Pak Alex untuk menuju Palembang demi menghemat waktu tempuh darat sekitar 3,5 jam.

Ia sempat menawari saya ikut pesawat kecil tersebut.

“Kalau mau ikut, ayo,” katanya. Tentu saya tolak demi solidaritas dengan rekan-rekan lain yang diundang.

Pertemuan berikutnya terjadi saat Palembang ditetapkan sebagai tuan rumah Hari Pers Nasional (HPN) 2010.

Sebagai Sekjen PWI Pusat, bersama Ketua Bidang Pendidikan Marah Sakti Siregar dan Ketua PWI Sumsel Oktaf Ryadi, kami menggagas pendirian Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI).

Dengan kerja keras, Pak Alex menyetujui pendirian SJI bertepatan dengan HPN, dan Palembang pun tercatat dalam sejarah sebagai pelopor SJI.
Kuliah perdana SJI diberikan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sekaligus meresmikan sekolah tersebut. Pesertanya sebagian besar berasal dari Sumatera Selatan. Pengajar yang hadir antara lain Rosihan Anwar dan Sabam Siagian.

Hingga tahun lalu, pembukaan SJI dilakukan pejabat tinggi negara, seperti Menteri Pendidikan Nadiem Makarim di Bandung atau Plt Gubernur Sumatera Utara di Medan. Program ini kemudian berkembang ke berbagai provinsi seperti Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Jawa Tengah, dan lainnya.

Pada puncak HPN 2010, Pak Alex menerima penghargaan Pena Emas dari PWI.

Ia juga menyetujui pembangunan Pusat Pelatihan Wartawan ASEAN yang dirancang untuk kegiatan pelatihan internasional bagi wartawan negara-negara ASEAN.

Ia menginstruksikan pembangunan gedung di kawasan olahraga Jakabaring, lengkap dengan fasilitas penginapan. Sayangnya, setelah selesai dibangun dan sempat direncanakan sebagai kantor sekretariat PWI Sumsel, gedung tersebut kemudian diambil alih Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan karena tidak dimanfaatkan secara optimal.

Kenangan lain bersifat pribadi. Saya pernah diajak bertemu di sebuah hotel bintang lima di Jakarta karena Pak Alex ingin mendirikan surat kabar bernama Berita Pagi.

Sebagai wartawan Kompas, saya diminta memimpin media tersebut. Namun, saya memilih tetap bertahan di tempat kerja hingga pensiun dan mengusulkan nama Atal S. Depari.

Setelah konsep disepakati, Atal bersama tim berpengalaman berhasil menerbitkan Berita Pagi, yang kemudian tumbuh menjadi media berpengaruh di Sumatera Selatan bersama Sumatera Express dan Sriwijaya Post.

Saya sempat diundang pada peringatan ulang tahun pertama media tersebut di Hotel Swarnadwipa.

Saya juga pernah menghadiri resepsi pernikahan anak beliau di Palembang sebagai bentuk penghormatan.

Selain Pak Alex, saya mengenal pula Dodi Alex Noerdin yang kala itu terpilih sebagai Bupati Musi Banyuasin.

Ayah dan anak merupakan pribadi yang dekat dengan media, seolah tanpa jarak antara wartawan dan narasumber.

Setiap kali ke Palembang, saya hampir selalu menggunakan LRT dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II karena cepat dan murah.

Transportasi ini dibangun bersamaan dengan Asian Games 2018 Jakarta–Palembang dan kini menjadi ikon kota.

LRT serta Kompleks Olahraga Jakabaring adalah prestasi nyata Alex Noerdin yang masih dinikmati masyarakat hingga kini.

Saya mengikuti pemberitaan mengenai persoalan hukum yang menimpa Pak Alex dan Dodi Alex Noerdin, meski tidak mendalaminya.

Saya lebih memilih mengingat prestasi dan kebaikan ayah dan anak tersebut, yang menurut saya tergolong langka di Indonesia. Sumatera Selatan dan Musi Banyuasin patut berbangga atas kontribusi mereka.

Sebagai Sekjen PWI Pusat 2008–2018, saya bersaksi atas kontribusi besar Alex Noerdin bagi organisasi wartawan ini, baik untuk PWI Pusat maupun PWI Sumsel.

Semoga almarhum husnul khatimah dan mendapat tempat mulia di sisi-Nya.
Aamiin ya rabbal alamin.
Ciputat, 25 Februari 2026
(R01-R12-Red-BFN)

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *