banner 728x250 banner 728x250 banner 728x250
banner 728x250

banner 728x250

Saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) Masuk Pantauan, Sekuritas Rekomendasikan Trading Buy

banner 120x600
banner 468x60

JAKARTA, Beritafaktanews.id//— Saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) masuk dalam daftar pantauan lanjutan sejumlah analis pasar modal. KB Valbury Sekuritas merekomendasikan trading buy untuk saham emiten tambang pelat merah tersebut pada perdagangan Selasa (17/3/2026).

Dalam risetnya, KB Valbury menetapkan target harga harian Rp2.970 dengan kisaran entry price Rp2.860–Rp2.920. Secara teknikal, level resistance berada di Rp2.970 dan support di Rp2.860, yang dinilai menjadi titik krusial pergerakan harga.

banner 325x300

Analis juga mengingatkan investor untuk mewaspadai potensi penurunan lanjutan apabila harga menembus level support tersebut. Stop loss disarankan di posisi Rp2.750.

Pada perdagangan Senin (16/3/2026), saham PTBA ditutup menguat 0,3% ke level Rp2.920. Dalam sepekan terakhir, saham ini terkoreksi sekitar 1%, namun melonjak 14,5% dalam sebulan dan menguat 26,4% secara year to date (YTD).

Kinerja Operasional
Secara fundamental, volume penjualan batu bara PTBA pada kuartal IV-2025 tercatat 11,7 juta ton, turun 3% secara kuartalan namun naik 1% secara tahunan. Sepanjang 2025, total penjualan mencapai 45,4 juta ton atau meningkat 6% dibandingkan tahun sebelumnya.

Sekitar 52% penjualan pada 4Q25 dialokasikan ke pasar ekspor, tumbuh 24% secara kuartalan, sementara 48% sisanya untuk pasar domestik yang mengalami penurunan 21%.

Stockbit Sekuritas mencatat stripping ratio meningkat menjadi 6,3 kali pada 4Q25 dibandingkan 5,7 kali pada kuartal sebelumnya. Namun secara tahunan, rasio tersebut turun menjadi 6,1 kali, lebih rendah dari realisasi 2024 sebesar 6,2 kali dan di bawah target manajemen 6,5 kali.

Pendapatan Dinilai Tahan Banting

Sementara itu, Kiwoom Sekuritas Indonesia menilai kinerja pendapatan PTBA relatif resilien. Perseroan membukukan pendapatan Rp31,3 triliun pada Januari–September 2025, naik 2% secara tahunan.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh peningkatan volume penjualan batu bara, meski tertekan penurunan harga jual rata-rata (ASP). Di sisi lain, laba kotor turun 36% menjadi Rp3,57 triliun, dipicu kenaikan biaya bahan bakar, logistik, serta jasa pertambangan.

Senior Equity Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia menyebut tekanan biaya dan harga batu bara menjadi faktor utama yang membatasi margin keuntungan emiten tersebut.

(R01-R12-Red-BFN)

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *