JAKARTA, Beritafaktanews.id//– PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menunjukkan komitmennya dalam menjaga keberlanjutan pasokan energi nasional melalui kegiatan eksplorasi di wilayah tambang Tanjung Enim, Sumatera Selatan.
Pada kuartal pertama 2026, perseroan menggelontorkan dana sebesar Rp 25,80 miliar (unaudited) untuk mendukung kegiatan eksplorasi di Tanjung Enim Mining Site (TEMS).
Kegiatan eksplorasi tersebut melibatkan tim internal PTBA bersama kontraktor jasa pengeboran dengan fokus utama di area tambang aktif.
Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (8/4/2026), kegiatan eksplorasi yang dilakukan mencakup pengeboran, logging geofisika, pengambilan sampel batu bara dan batuan, hingga monitoring ToC-BoC front tambang.
Kegiatan pengeboran dilakukan di empat wilayah izin usaha pertambangan (IUP), yakni Air Laya, Muara Tiga Besar (MTB), Banko Barat, dan Banko Tengah B.
Secara keseluruhan, PTBA menyelesaikan 94 titik pengeboran dengan total kedalaman mencapai 14.652 meter. Selain itu, terdapat tambahan 90 titik bor dengan total panjang pengeboran 12.982 meter.
Pengeboran tersebut bertujuan memperluas cakupan area eksplorasi di TEMS sekaligus meningkatkan akurasi data cadangan batu bara.
Di area Air Laya, Muara Tiga Besar, Banko Barat, dan Banko Tengah B, perusahaan mengalokasikan dana sebesar Rp 18,08 miliar untuk kegiatan pengeboran.
Pelaksanaan kegiatan dilakukan oleh tim internal PTBA bersama PT Resources ID dengan metode coring, open hole, serta logging geofisika.
Selain pengeboran, PTBA juga melakukan pengambilan sampel batu bara dan batuan di area Muara Tiga Besar, Air Laya, Banko Barat, serta Banko Tengah A dan B.
Untuk kegiatan tersebut, perusahaan mengalokasikan dana sebesar Rp 6,12 miliar.
Pelaksanaan kegiatan melibatkan tim internal dan PT Resources ID dengan fokus pada analisis kualitas batu bara serta karakteristik batuan.
Dari kegiatan tersebut, terkumpul sebanyak 1.202 sampel batu bara untuk analisis kualitas, 302 sampel inti bor untuk uji keasaman batuan, serta 693 sampel inti bor untuk pengujian mekanika batuan.
PTBA memastikan kegiatan pengambilan sampel ini akan terus dilanjutkan sepanjang tahun 2026 guna mendukung target produksi jangka panjang.
Di sisi lain, perusahaan juga menjalankan kegiatan monitoring dengan total biaya sebesar Rp 0,92 miliar.
Monitoring tersebut dilakukan sepenuhnya oleh tim internal perusahaan melalui pemantauan ToC–BoC front tambang.
Kegiatan monitoring mencakup area seluas 602 hektare yang bertujuan memastikan kondisi operasional tambang tetap sesuai rencana kerja serta standar keselamatan dan lingkungan.
Sementara itu, pada penutupan perdagangan saham Selasa, 7 April 2026, saham PTBA turun 1,68 persen menjadi Rp 2.930 per saham.
Saham PTBA dibuka naik 20 poin ke level Rp 3.000 per saham. Selama perdagangan, saham PTBA sempat menyentuh level tertinggi Rp 3.010 dan terendah Rp 2.870 per saham.
Total frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 15.107 kali dengan volume transaksi mencapai 330.731 saham dan nilai transaksi harian sebesar Rp 97 miliar.
(R01-R12-Red-BFN)


















