banner 728x250 banner 728x250 banner 728x250
banner 728x250

banner 728x250
Opini  

Prof. Dr. Amal Fathullah Zarkasyi: Jejak Keilmuan dan Pengabdian Pimpinan Gontor

banner 120x600
banner 468x60

Oleh: Rizky.F

Pondok Modern Darussalam Gontor bukan sekadar pesantren, melainkan sebuah sistem pendidikan dan peradaban. Di balik kesinambungan nilai dan visi besar itu, berdiri sosok Prof. Dr. Amal Fathullah Zarkasyi, seorang cendekiawan Muslim, akademisi, dan pengabdi pesantren yang menautkan tradisi keilmuan Islam klasik dengan tantangan dunia modern.

banner 325x300

Lahir di Ponorogo, Jawa Timur, pada 4 November 1947, Amal Fathullah Zarkasyi merupakan putra dari Imam Zarkasyi, salah satu Trimurti pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor. Sejak awal, perjalanan hidupnya telah bersentuhan erat dengan dunia pendidikan, dakwah, dan pembentukan karakter umat.

Pendidikan: Dari Gontor ke Dunia Internasional

Pendidikan dasar Amal ditempuh di Sekolah Rakyat Desa Gontor dan dilanjutkan ke SMP Muhammadiyah Jetis. Jiwa keilmuan dan kepesantrenannya ditempa secara serius ketika ia menempuh pendidikan di Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyyah (KMI) Gontor, yang diselesaikannya pada 1969.

Ia kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di Institut Pendidikan Darussalam (IPD) Gontor dan memperoleh gelar Bachelor of Arts (B.A.) pada 1973. Kehausan intelektualnya mendorong Amal memperdalam studi Perbandingan Agama di Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Ampel Surabaya, hingga meraih gelar sarjana pada 1978.

Jejak akademiknya menembus dunia internasional ketika ia melanjutkan studi magister di Universitas Kairo, Mesir, dalam bidang Filsafat Islam. Tesis berbahasa Arab yang ditulisnya—Al-Ittijah as-Salafi fi al-Fikr al-Islami al-Hadits bi Indonesia—menjadi salah satu karya penting dalam kajian pemikiran Islam kontemporer Indonesia.

Puncak pendidikan formalnya diraih pada 2006 dengan gelar doktor dalam bidang Aqidah dan Pemikiran Islam dari Universiti Malaya, Kuala Lumpur. Disertasinya mengkaji konsep tauhid Ibn Taymiyyah dan pengaruhnya terhadap kurikulum pendidikan akidah di Gontor—sebuah kajian yang menggabungkan ketajaman teologis dan praktik pendidikan.

Pengabdian Seumur Hidup di Gontor

Sejak 1969, Amal Fathullah Zarkasyi telah mengabdikan diri sebagai pendidik di KMI Gontor. Ia bukan sekadar pengajar, tetapi bagian dari arsitek sistem pendidikan Gontor yang berorientasi pada integrasi ilmu agama dan ilmu umum.

Karier strukturalnya dimulai sebagai Dekan Fakultas Ushuluddin IPD Gontor (1988–2000), kemudian menjabat Pembantu Rektor di Institut Studi Islam Darussalam (ISID). Ia menjadi salah satu tokoh kunci dalam transformasi ISID menjadi Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor.

Pada 2014, Amal dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Kalam dan dipercaya menjadi Rektor pertama UNIDA Gontor hingga 2020. Kepemimpinannya menegaskan arah universitas sebagai pusat keilmuan Islam yang berakar pada pesantren namun terbuka terhadap dinamika global.

Menjadi Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor

Tahun 2020 menjadi titik penting dalam perjalanan hidupnya. Wafatnya dua pimpinan Gontor, KH Abdullah Syukri Zarkasyi dan KH Syamsul Hadi Abdan, membawa amanah besar kepada Amal Fathullah Zarkasyi. Badan Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor menunjuknya sebagai pimpinan pondok—sebuah amanah yang menegaskan kesinambungan nilai, bukan sekadar regenerasi struktural.

Dengan penunjukan itu, Amal secara resmi mengakhiri masa jabatannya sebagai rektor UNIDA Gontor dan sepenuhnya memusatkan pengabdian pada kepemimpinan pesantren.

Pemikiran Ilmu Kalam: Menjaga Aqidah di Era Modern. 

Sebagai pakar Ilmu Kalam, Amal Fathullah Zarkasyi menempatkan disiplin ini sebagai benteng akidah umat Islam. Ia menegaskan bahwa Ilmu Kalam berfungsi melindungi keimanan dari keraguan, distorsi pemikiran, dan tantangan ideologis—baik yang datang dari luar maupun dari internal umat.

Menurutnya, di era modern Ilmu Kalam tidak boleh terjebak pada pendekatan historis-deskriptif semata yang berujung pada dekonstruksi akidah. Sebaliknya, Ilmu Kalam harus kembali pada tugas utamanya: mengukuhkan kebenaran agama, keberadaan Tuhan, kenabian, dan hari pembalasan, dengan tetap berpijak pada epistemologi Islam.

Ia menawarkan dua pendekatan utama: metode filsafat dan metode ilmiah. Keduanya harus digunakan dalam kerangka pemikiran Islam yang terbebas dari skeptisisme, relativisme, dan sekularisme.

Kontribusi Nasional dan Internasional
Selain di dunia akademik, Amal aktif dalam penguatan sistem pendidikan pesantren di Indonesia. Ia menjabat sebagai Ketua Umum Forum Komunikasi Pesantren Mu’adalah, yang berperan penting dalam pengakuan negara terhadap sistem pendidikan pesantren melalui Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019.

Ia juga kerap menjadi pembicara dalam berbagai forum internasional di Mesir, Malaysia, Maroko, Yaman, Thailand, Bosnia, dan negara lainnya—mengusung dialog peradaban, filsafat Islam, dan pendidikan pesantren.

Karya dan Warisan Intelektual

Sebagai intelektual produktif, Amal Fathullah Zarkasyi telah menulis sejumlah karya penting, antara lain:
Theology Hindu Dharma dan Islam (1996)
Manhaj al-Bahth al-Falsafi (1997)
Ilmu Kalam (1998)
al-Salaf wa al-Salafiyyah fi al-Fikr al-Islami (2002)
Nazariyah al-Fana’ ‘inda Abi Yazid al-Bustami (2003)
al-Ittijah al-Salafi fi al-Fikr al-Islami al-Hadits bi Indonesia (2006)
Aqidah al-Tawhid ‘inda al-Falasifah wa al-Mutakallimin wa al-Sufiyah (2009)

Penutup

Prof. Dr. Amal Fathullah Zarkasyi adalah representasi ulama-intelektual pesantren: berakar kuat pada tradisi, berpikir kritis, dan mengabdi sepenuhnya untuk umat. Di tangannya, Gontor bukan hanya bertahan, tetapi terus bergerak sebagai pusat pendidikan Islam yang relevan, berwibawa, dan visioner di tengah perubahan zaman.

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *