banner 728x250 banner 728x250 banner 728x250
banner 728x250

banner 728x250

Nasib Koran di Era Digital: Dari Rak Perpustakaan ke Kenangan

banner 120x600
banner 468x60

Berita Faktanews//–
Sudah lama saya ingin membeli koran dari penjual koran yang setiap pagi berjualan di persimpangan jalan yang sering saya lewati. Dengan wajah yang sama—lelah dan pasrah—ia mengeluhkan hal yang kini menjadi cerita umum:

“Sekarang pembeli koran sepi, makanya saya hanya bawa sedikit.”

banner 325x300

Koran yang saya beli adalah terbitan lokal.

Saya membelinya bukan sekadar untuk membaca, tetapi sebagai bahan pembelajaran bagi murid-murid saya. Sebab, sebagian besar dari mereka bahkan tidak mengenal bentuk fisik koran. Apalagi membacanya.

Dulu, membaca koran sambil minum kopi atau teh di pagi hari adalah kebiasaan. Informasi hanya datang dari tiga sumber: televisi, radio, dan surat kabar. Loper koran ditunggu kedatangannya, bahkan ada yang tak bisa mulai bekerja sebelum membaca berita hari itu.

Kini, semuanya berubah. Portal berita daring menyajikan informasi hanya dalam hitungan detik. Praktis, cepat, dan selalu diperbarui. Akibatnya, koran mulai ditinggalkan perlahan.

Transformasi digital tidak hanya menggeser koran, tetapi juga tabloid dan majalah. Sebagian masih bertahan, namun dengan pembaca yang semakin menyusut. Nasib penerbit dan penjual koran pun ikut tergerus.

Di sekolah tempat saya mengajar, kami masih berlangganan beberapa koran dan majalah. Namun ironisnya, hanya satu atau dua guru yang membacanya. Siswa hampir tak pernah menyentuhnya. Rak koran di perpustakaan lebih sering menjadi pajangan daripada sumber bacaan.

Sebagai pendidik, saya merasa prihatin. Pemerintah mendorong literasi dan numerasi, namun kebiasaan membaca justru menurun. Karena itu, kami tetap mempertahankan metode pembelajaran konvensional. Setiap minggu siswa wajib ke perpustakaan, membaca buku, lalu merangkum isinya.

Agar koran tak sepenuhnya dilupakan, saya memberi tugas kliping dari koran bekas. Tema ditentukan bersama. Dari situ, anak-anak mau tak mau membaca judul dan isi berita, meski awalnya tak tertarik. Kami juga memanfaatkan potongan berita untuk menghiasi mading sekolah.

Dengan cara itu, setidaknya mereka mengenal apa itu koran dan apa fungsinya.
Ironisnya, justru para penjual koran yang sering menjadi “orang paling tahu berita”. Karena setiap hari membaca dagangannya sendiri, mereka mendapat ilmu meski keuntungan makin tipis.

Bagi orang dewasa, pembaca koran kini semakin sedikit. Umumnya hanya mereka yang tidak nyaman menatap layar gawai atau yang lebih percaya pada media cetak karena minim iklan dan dianggap lebih kredibel.

Fakta tak bisa dibantah: media cetak menghadapi tantangan besar. Biaya produksi mahal, pembaca berkurang, dan masyarakat terbiasa mendapatkan berita gratis dari internet. Banyak media cetak akhirnya tutup.

Namun, media cetak tidak harus mati. Ia bisa bertransformasi. Seperti media digital, koran juga harus menyesuaikan diri dengan teknologi. Suatu saat mungkin bentuknya berubah, tetapi fungsi jurnalistiknya—menyampaikan realitas sosial—akan tetap hidup.

Koran mungkin tidak lagi menjadi raja informasi, tetapi ia tetap bagian dari sejarah literasi bangsa.

Tinggal satu pertanyaan:
apakah kita masih mau membacanya, atau membiarkannya tinggal kenangan?

(R01-R12-Red-BFN)

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *