banner 728x250 banner 728x250 banner 728x250
banner 728x250

banner 728x250

Laba PTBA Turun 43 Persen Di Tengah Pelemahan Harga Batu Bara Global

banner 120x600
banner 468x60

JAKARTA, Beritafaktanews.id// – PT Bukit Asam Tbk (PTBA) membukukan laba bersih sebesar Rp2,93 triliun sepanjang tahun buku 2025. Angka tersebut turun 43 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp5,10 triliun.

Penurunan laba terjadi di tengah melemahnya harga batu bara global sepanjang 2025, meskipun Perseroan tetap mencatatkan pertumbuhan volume produksi dan penjualan.

banner 325x300

Direktur Utama PT Bukit Asam, Arsal Ismail mengatakan, Perseroan masih mampu mempertahankan kinerja operasional yang solid di tengah tekanan pasar.

“Di tengah tekanan harga batu bara global sepanjang 2025, PT Bukit Asam tetap mampu mempertahankan kinerja operasional yang solid. Perseroan juga mencatat perbaikan profitabilitas secara kuartalan, didorong oleh optimalisasi portofolio pasar ekspor dan peningkatan efisiensi biaya,” ujarnya.

PTBA mencatat volume produksi sebesar 47,19 juta ton atau naik 9 persen dibandingkan tahun 2024 sebesar 43,28 juta ton. Sementara volume penjualan naik 6 persen menjadi 45,43 juta ton.

Penjualan domestik tumbuh lebih tinggi, yakni naik 9 persen menjadi 24,74 juta ton. Sedangkan penjualan ekspor naik 2 persen menjadi 20,69 juta ton.

Meski volume operasional meningkat, harga jual rata-rata batu bara mengalami penurunan seiring melemahnya harga batu bara global. Newcastle Index tercatat turun 22 persen dan ICI-3 turun 16 persen secara tahunan.

Kondisi tersebut membuat pendapatan PTBA relatif stagnan di angka Rp42,65 triliun, turun tipis dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp42,76 triliun.

Dari sisi profitabilitas, EBITDA PTBA tercatat sebesar Rp6,08 triliun atau turun 27 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp8,30 triliun. Sementara margin EBITDA berada di level 14 persen.

Beban pokok pendapatan meningkat 5 persen menjadi Rp36,39 triliun. Kenaikan biaya dipicu oleh meningkatnya volume produksi dan angkutan, serta naiknya harga bahan bakar akibat pencabutan subsidi FAME pada biodiesel dan kewajiban penggunaan B40.

Selain itu, beban umum dan administrasi naik 13 persen, sedangkan beban penjualan meningkat 3 persen seiring pertumbuhan volume penjualan.

Pada sisi neraca, total aset PTBA naik 5 persen menjadi Rp43,92 triliun. Total liabilitas meningkat menjadi Rp21,30 triliun, sedangkan ekuitas relatif stabil di level Rp22,62 triliun.

Kas dan setara kas Perseroan tercatat sebesar Rp4,52 triliun atau naik 9 persen dibandingkan posisi akhir 2024. Namun demikian, pinjaman bank juga meningkat signifikan sebesar 131 persen menjadi Rp3,23 triliun.

Belanja modal hingga akhir 2025 terealisasi sebesar Rp4,55 triliun atau naik 94 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Mayoritas belanja modal digunakan untuk pengembangan angkutan batu bara relasi Tanjung Enim-Kramasan.

Dari sisi arus kas, PTBA mencatat arus kas operasi sebesar Rp6,26 triliun atau naik 24 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut didorong oleh peningkatan penerimaan dari pelanggan dan pengembalian pajak.

Sementara arus kas investasi meningkat menjadi Rp3,40 triliun akibat penambahan aset tetap dan tanaman produktif. Adapun arus kas pendanaan turun menjadi Rp2,52 triliun seiring pembayaran dividen sebesar Rp3,83 triliun dan menurunnya pembayaran pinjaman bank.

Untuk tahun 2026, PTBA menargetkan volume produksi sebesar 49,55 juta ton, volume penjualan 49,51 juta ton, volume angkutan 41 juta ton, stripping ratio 5,63x, serta belanja modal sebesar Rp3,64 triliun.

(R01-R12-Red-BFN)

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *