Berita Faktanews//–
Daya pikat perusahaan pelat merah PT Bukit Asam Tbk (PTBA) kian menguat seiring hadirnya dua katalis utama yang diproyeksikan menopang kinerja perseroan sepanjang tahun ini, yakni kuota produksi batu bara yang tetap penuh serta berlanjutnya proyek hilirisasi dimethyl ether (DME).
Sebagai pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) dari pemerintah, PTBA tidak terdampak pemangkasan kuota produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026. Kondisi ini dinilai memberikan kepastian terhadap volume penjualan dan kinerja keuangan perseroan.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai status PTBA sebagai emiten pelat merah terintegrasi dengan basis pasar domestik yang kuat melalui skema domestic market obligation (DMO) menjadi keunggulan tersendiri.
“Dengan struktur biaya yang kompetitif dan neraca yang sehat, PTBA berpotensi menjaga stabilitas laba meski harga batu bara fluktuatif,” ujar Hendra kepada Katadata, Senin (20/2).
Dari sisi valuasi, Hendra menilai saham PTBA masih menarik untuk strategi trading buy dengan target harga Rp3.000, terutama jika sentimen komoditas dan arus dana asing ke sektor energi tetap terjaga.
Hal senada disampaikan Head of Research Korea Investment Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi. Menurutnya, kuota produksi yang utuh menjadi katalis positif dari sisi skala ekonomis dan proteksi margin.
“Ketika harga tidak bisa diandalkan, maka volume menjadi tameng laba. Dengan kuota penuh, emiten dapat menjaga efisiensi cash cost,” ujar Wafi.
Ia mematok target harga saham PTBA di level Rp3.400. Hingga perdagangan Senin (23/2) pukul 11.39 WIB, saham PTBA menguat 0,38% atau 10 poin ke level Rp2.630. Dalam tiga bulan terakhir, saham PTBA telah naik 13,36%.
Selain faktor produksi, katalis kedua penopang kinerja PTBA adalah pengembangan proyek gasifikasi batu bara menjadi DME. Proyek tersebut masuk dalam daftar 20 proyek hilirisasi prioritas yang akan mulai dibangun tahun ini, seiring rencana pemerintah mengalihkan subsidi liquefied petroleum gas (LPG) ke DME.
Sebelumnya, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) menargetkan pembangunan 20 proyek hilirisasi lintas sektor dengan nilai investasi sekitar US$26 miliar dan diperkirakan menyerap hingga 600 ribu tenaga kerja.
Corporate Secretary Division Head PTBA, Eko Prayitno, menyatakan perseroan tengah berdiskusi intensif dengan Danantara terkait kelanjutan proyek tersebut. Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA, Turino Yulianto, menegaskan hilirisasi energi dan utilitas menjadi salah satu dari empat pilar bisnis perseroan hingga 2029, termasuk pengembangan DME.
Menurutnya, konversi batu bara menjadi produk gas atau cair dapat menekan biaya logistik karena distribusi batu bara padat relatif lebih mahal. Namun, perseroan tetap memperhitungkan risiko dan tingkat pengembalian investasi mengingat kebutuhan belanja modal yang besar.
Pembangunan satu pabrik DME atau metanol diperkirakan membutuhkan investasi sekitar Rp50 triliun, sementara subsidi LPG nasional mencapai Rp80–90 triliun per tahun.
Melalui diversifikasi usaha, PTBA menargetkan peningkatan volume produksi hingga 100 juta ton per tahun dari posisi saat ini sekitar 40 juta ton. Perseroan meyakini hilirisasi mampu meningkatkan nilai tambah secara signifikan, dengan DME menghasilkan nilai hingga 4,3 kali lipat dibanding batu bara mentah, synthetic natural gas (SNG) 5,7 kali, metanol 4,7 kali, dan amonia 4,8 kali.
(R01-R12-Red-BFN)


















