Jangan Biarkan Pertemanan Sepihak Menguras Energ
Berita Faktanews// – Pernahkah Anda merasa seperti alat bantu darurat? Ada teman yang tiba-tiba menghilang, lalu muncul lagi hanya ketika mereka membutuhkan sesuatu: meminjam uang, meminta bantuan pekerjaan, atau sekadar tempat melampiaskan keluh kesah. Setelah itu, mereka kembali lenyap hingga krisis berikutnya datang.
Hubungan seperti ini jelas melelahkan. Pertemanan menjadi sepihak, tanpa timbal balik. Padahal, manusia bukan mesin ATM atau layanan konsultasi gratis. Kita juga butuh dihargai, diperhatikan, dan didengar.
Kenali Polanya
Langkah pertama adalah kejujuran pada diri sendiri. Apakah ini pola yang berulang? Apakah Anda selalu yang pertama menghubungi, sementara mereka hanya datang ketika butuh? Jika ya, terimalah kenyataan bahwa dinamika ini tidak sehat.
Evaluasi Nilai Pertemanan
Tanyakan pada diri sendiri, apa manfaat yang sebenarnya Anda peroleh? Jika lebih banyak lelah dan kecewa daripada kebahagiaan, mungkin sudah saatnya menata ulang. Energi sosial Anda sebaiknya diinvestasikan pada orang yang sungguh peduli.
Pasang Batasan Tegas
Anda berhak berkata tidak. Tidak semua permintaan harus dipenuhi. Katakan dengan halus, “Maaf, kali ini saya tidak bisa membantu.” Penolakan yang jelas adalah pelajaran bagi orang lain tentang bagaimana memperlakukan Anda.
Jangan Selalu Siap Sedia
Biasanya, mereka yang memanfaatkan mengharapkan respons instan. Ubah pola itu. Balas pesan seperlunya, bahkan bisa ditunda beberapa jam. Dengan begitu, mereka paham bahwa waktu Anda berharga.
Uji dengan Meminta Balik
Coba balik keadaan: mintalah bantuan kecil dari mereka. Jika jawabannya penuh alasan, Anda sudah mendapat konfirmasi mengenai ketulusan pertemanan itu.
Alihkan Percakapan
Ketika mereka datang hanya dengan permintaan, coba alihkan: “Sebelum itu, bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?” Jika mereka tidak peduli, itu bukti nyata bahwa hubungan ini hanya sepihak.
Kurangi Inisiatif
Berhentilah menjadi pihak yang selalu lebih dulu menyapa. Jika hening panjang tercipta, artinya Anda memang tidak pernah dianggap teman, hanya sekadar alat.
Fokus pada Koneksi yang Sehat
Alihkan energi Anda kepada pertemanan yang tulus: mereka yang hadir di saat suka maupun duka, bukan hanya ketika ada kepentingan.
Beri Jarak Tanpa Rasa Bersalah
Menjauh bukan berarti jahat. Itu bentuk perlindungan diri. Kadang, cara terbaik adalah perlahan mengurangi intensitas komunikasi, tanpa drama.
Menghadapi teman yang hanya datang saat butuh memang tidak mudah. Namun, jauh lebih menyakitkan jika terus membiarkan diri dimanfaatkan. Pertemanan sejati dibangun atas dasar saling menghargai, bukan saling memakai. Dengan keberanian menjaga batas, Anda memberi ruang bagi hubungan yang lebih sehat, tulus, dan bermakna.
(R01-R12-BFN)






