Berita Faktanews//–
Ruang perawatan itu hening. Mesin-mesin medis berdetak seperti metronom yang mengatur jarak antara harapan dan kecemasan. Di salah satu sudut ibu kota, Alex Noerdin terbaring, tubuhnya disangga selang dan jarum, sementara namanya tetap bergema di ruang-ruang publik.
Dulu, ia berdiri di panggung-panggung besar, menyambut dunia ketika Asian Games 2018 menyapa Palembang. Kota itu bersolek, lampu-lampu menyala, dan tepuk tangan menjadi bahasa kebanggaan. Kini, tepuk tangan itu berubah menjadi doa lirih—dari keluarga, simpatisan, dan mereka yang merasa pernah disentuh oleh kebijakannya.
Namun sejarah tak hanya ditulis dengan sorak-sorai. Ia juga diukir oleh perkara. Di ruang sidang, namanya disebut sebagai terdakwa dalam pusaran dugaan korupsi proyek revitalisasi Pasar Cinde. Hukum berjalan dengan langkahnya sendiri—tenang, terukur, tak tergesa oleh simpati, tak goyah oleh nostalgia.
Ketika kabar tentang kondisinya yang menurun menyebar—tentang tubuh yang melemah, tentang ruang ICU dan alat bantu napas—masyarakat terbelah dalam sunyi yang sama: antara empati dan tuntutan keadilan. Sidang pun ditunda, menunggu waktu yang lebih ramah bagi raga yang sedang berjuang.
Sebagian orang turun ke media sosial, menyusun kalimat-kalimat dukungan. Mereka mengingat jalan yang dibangun, stadion yang berdiri, dan peristiwa besar yang pernah menyatukan Sumatera Selatan dalam kebanggaan.
“Pertimbangkan sisi kemanusiaan,” seru mereka, seakan hukum pun memiliki jantung yang bisa berdebar.
Namun suara lain berbisik lebih pelan: hukum harus tetap tegak. Jasa tidak menghapus dakwaan, dan sakit tidak serta-merta menghapus perkara. Di negeri yang terus belajar adil, setiap nama—besar atau kecil—harus berdiri setara di hadapan palu hakim.
Di antara dua arus itu, Alex Noerdin kini lebih banyak berbaring daripada berbicara. Tubuhnya menjadi medan sunyi, tempat waktu berjalan perlahan. Publik menunggu—bukan hanya putusan pengadilan, tetapi juga kabar tentang denyut yang kembali stabil.
Barangkali, kisah ini bukan semata tentang seorang mantan gubernur. Ia tentang bagaimana sebuah bangsa menimbang antara belas kasih dan ketegasan; tentang bagaimana kita memandang manusia, lengkap dengan jasa dan salahnya.
Dan di ruang yang sepi itu, di antara bunyi mesin dan doa yang tak terdengar, hidup dan hukum sama-sama menanti giliran untuk berbicara.
(R01-R12-Red-BFN)
















