WASHINGTON, Beritafaktanews.id//—Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) diperkirakan akan mengirim ribuan prajurit tambahan dari Divisi Lintas Udara ke-82 Angkatan Darat AS ke kawasan Timur Tengah, di tengah meningkatnya ketegangan konflik dengan Iran.
Informasi tersebut disampaikan oleh dua sumber yang mengetahui rencana itu pada Selasa (24/3/2026).
Langkah ini menjadi bagian dari penguatan militer besar-besaran yang dilakukan Amerika Serikat, meskipun Presiden Donald Trump masih membuka peluang tercapainya kesepakatan diplomatik dengan Iran untuk mengakhiri konflik.
Sumber tersebut menyebutkan, sekitar 3.000 hingga 4.000 personel dari Divisi Lintas Udara ke-82 yang bermarkas di Fort Bragg akan dikerahkan. Namun, belum ada rincian terkait lokasi penempatan maupun jadwal keberangkatan pasukan.
Gedung Putih menyatakan pengumuman resmi akan disampaikan oleh Pentagon. Juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, menegaskan bahwa presiden memiliki seluruh opsi militer yang diperlukan.
“Presiden selalu memiliki semua opsi militer yang tersedia,” ujarnya.
Pengerahan ini menyusul pengiriman ribuan Marinir dan pelaut menggunakan kapal serbu amfibi USS Boxer beserta unit ekspedisi marinirnya. Sebelumnya, sekitar 50.000 personel militer AS telah berada di kawasan Timur Tengah.
Konflik yang dimulai sejak 28 Februari 2026 tersebut telah memasuki pekan keempat. Dalam operasi militer gabungan AS dan Israel terhadap Iran, sekitar 9.000 target dilaporkan telah diserang. Seorang pejabat AS menyebutkan, 13 tentara AS tewas dan 290 lainnya terluka, meski sebagian besar korban luka telah kembali bertugas.
Di sisi lain, Presiden Trump sempat menunda ancaman serangan terhadap fasilitas pembangkit listrik Iran, dengan alasan adanya pembicaraan yang disebut “produktif”. Namun, pihak Iran membantah adanya dialog tersebut.
Dilema Opsi Militer
Militer AS kini disebut tengah mempertimbangkan berbagai opsi strategis, termasuk pengamanan Selat Hormuz dan kemungkinan pengerahan pasukan ke wilayah pesisir Iran.
Pemerintah AS juga dilaporkan mengkaji skenario pengiriman pasukan darat ke Pulau Kharg, yang menjadi pusat sekitar 90 persen ekspor minyak Iran.
Divisi Lintas Udara ke-82 dikenal sebagai satuan elite dengan kemampuan mobilisasi cepat, yang dapat dikerahkan dalam waktu 18 jam untuk operasi serangan udara melalui penerjunan.
Namun, penggunaan pasukan darat tetap menjadi opsi berisiko tinggi secara politik. Hal ini berkaitan dengan rendahnya dukungan publik Amerika terhadap perang di Iran, serta komitmen Trump sebelumnya untuk menghindari keterlibatan dalam konflik baru di Timur Tengah.
Hasil jajak pendapat Reuters/Ipsos menunjukkan hanya 35 persen warga AS yang mendukung serangan ke Iran, turun dari pekan sebelumnya sebesar 37 persen. Sebaliknya, sebanyak 61 persen responden menyatakan tidak setuju, meningkat dari 59 persen.
(R01-R12-Red-BFN)






