JAKARTA, Beritafaktanews.id// – PT Bukit Asam (Persero) Tbk atau PTBA membukukan laba bersih sebesar Rp2,93 triliun sepanjang 2025. Angka tersebut turun 43 persen secara year on year (yoy) dibandingkan laba bersih tahun 2024 yang mencapai Rp5,10 triliun.
Direktur Utama Arsal Ismail mengatakan, di tengah tekanan harga batu bara global sepanjang 2025, perseroan masih mampu mempertahankan kinerja operasional yang solid.
“Kinerja tersebut tercermin dari pertumbuhan volume produksi dan penjualan yang tetap positif. Selain itu, realisasi belanja modal yang optimal menjadi fondasi penting dalam mendukung keberlanjutan, serta pertumbuhan kinerja operasional ke depan,” ujar Arsal dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu.
Sepanjang 2025, PTBA mencatat pendapatan usaha sebesar Rp42,65 triliun, relatif stabil dibandingkan tahun 2024 yang sebesar Rp42,76 triliun. Namun, beban pokok pendapatan meningkat menjadi Rp36,39 triliun atau naik 5 persen dibandingkan Rp34,56 triliun pada tahun sebelumnya.
Kenaikan beban operasional tersebut menjadi salah satu faktor utama yang menekan laba bersih perusahaan, di tengah harga batu bara global yang masih melemah sepanjang tahun lalu.
Sementara itu, EBITDA PTBA tercatat sebesar Rp6,08 triliun dengan EBITDA margin berada di level 14 persen.
Untuk realisasi belanja modal atau capital expenditure (capex), PTBA telah merealisasikan 63 persen dari target tahunan atau sebesar Rp4,55 triliun.
Dari sisi operasional, volume produksi batu bara PTBA mencapai 47,19 juta ton sepanjang 2025, naik 9 persen dibandingkan 43,28 juta ton pada 2024. Sedangkan volume penjualan batu bara mencapai 45,43 juta ton atau tumbuh 6 persen dibandingkan 42,89 juta ton pada tahun sebelumnya.
Dari total penjualan tersebut, sebanyak 24,74 juta ton berasal dari pasar domestik dan 20,69 juta ton dari pasar ekspor. Peningkatan produksi dan penjualan menunjukkan bahwa perusahaan masih mampu menjaga permintaan di tengah tekanan harga batu bara global.
Per 31 Desember 2025, total aset PTBA tercatat sebesar Rp43,91 triliun atau naik 5 persen dibandingkan Rp41,78 triliun pada akhir 2024. Sementara total liabilitas tercatat Rp21,30 triliun dan total ekuitas mencapai Rp22,61 triliun.
(R01-R12-Red-BFN)








