Jakarta, Faktanews.id – PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mencatatkan penurunan laba bersih sepanjang Januari–September 2025. Fluktuasi harga batubara dinilai menjadi salah satu faktor penentu kinerja perseroan pada 2026.
Hingga kuartal III-2025, PTBA membukukan pendapatan sebesar Rp31,33 triliun atau naik 2 persen secara tahunan (year on year/yoy). Namun, laba bersih merosot 56,25 persen menjadi Rp1,4 triliun.
Senior Equity Analyst Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas, mengatakan kenaikan pendapatan ditopang oleh volume penjualan batubara yang lebih tinggi, meski dibayangi tekanan dari penurunan harga jual rata-rata (average selling price/ASP).
Kinerja ekspor PTBA tercatat bervariasi. Pertumbuhan signifikan terjadi pada pasar Bangladesh (naik 287 persen yoy), Filipina (naik 239 persen yoy), dan Taiwan (naik 49 persen yoy).
Namun, hal tersebut diimbangi oleh penurunan tajam ke pasar utama seperti China (turun 75 persen yoy), India (turun 46 persen yoy), Korea (turun 51 persen yoy), dan Vietnam (turun 33 persen yoy).
Dari sisi operasional, produksi batubara meningkat menjadi 35,9 juta metrik ton (MT) atau naik 9 persen yoy, sedangkan volume penjualan mencapai 33,7 juta MT atau tumbuh 8 persen yoy.
“Namun, harga jual rata-rata (ASP) turun 6 persen yoy menjadi Rp0,91 juta per ton, sehingga membatasi pertumbuhan pendapatan,” ujar Sukarno dalam risetnya, 14 Januari 2026.
Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan, menilai prospek kinerja PTBA pada kuartal I-2026 relatif stabil, meski belum menunjukkan penguatan signifikan. Menurutnya, kinerja awal tahun masih sangat dipengaruhi harga batubara, volume penjualan, serta biaya dan logistik.
“Selama harga batubara masih fluktuatif dan pasar global belum sepenuhnya risk-on, pergerakan saham akan cenderung naik-turun meskipun bisnis tetap berjalan,” kata Ekky kepada Kontan, Senin (9/2/2026).
Ekky menambahkan, tantangan utama PTBA pada kuartal I-2026 berasal dari volatilitas harga batubara, permintaan ekspor terutama dari China dan India, faktor cuaca yang berpotensi mengganggu produksi dan pengangkutan, serta kebijakan pemerintah terkait DMO, royalti, dan regulasi teknis lainnya.
Sementara itu, Analis Philip Sekuritas Indonesia, Helen, menyoroti langkah ekspansi yang dilakukan PTBA. Progres pembangunan jalur transportasi batubara Tanjung Enim–Keramasan telah mencapai 58 persen dan diharapkan memperkuat infrastruktur logistik end to end perusahaan.
“Optimalisasi kapasitas pelabuhan juga tengah berlangsung, dengan target peningkatan kapasitas Pelabuhan Tarahan dari 27,5 juta MT menjadi 28,0 juta MT dan Pelabuhan Kertapati dari 8,0 juta MT menjadi 8,5 juta MT,” ujar Helen dalam risetnya, 19 Desember 2025.
Dari sisi bauran penjualan, PTBA menjaga komposisi yang relatif seimbang, dengan penjualan ekspor sebesar 44 persen dan domestik 56 persen dari total volume. Segmen domestik masih didominasi oleh PT PLN (Persero) yang menyerap 37 persen dari total penjualan, diikuti pembangkit listrik di sekitar tambang sebesar 9 persen, serta pembeli domestik lainnya 10 persen.
“Risiko utama bagi PTBA meliputi fluktuasi harga batubara dan kebijakan iklim yang terus berkembang,” kata Helen.
Terkait kinerja saham, Research Analyst BNI Sekuritas, Muhammad Lutfi Permana, menilai saham PTBA menarik bagi investor yang memburu dividen. Ia menyebut pergerakan saham PTBA saat ini telah memasuki fase uptrend.
“Untuk investor pemburu dividen, PTBA termasuk salah satu emiten dengan dividen terbesar,” ujarnya.
Sukarno memproyeksikan potensi imbal hasil dividen PTBA sebesar 7,7 persen pada 2026 dan 5,7 persen pada 2027 dengan asumsi dividend payout ratio (DPR) 75 persen.
Risiko negatif utama meliputi perlambatan ekonomi global, volatilitas harga batubara, penguatan rupiah, transisi energi, serta perubahan regulasi.
Ia memperkirakan pendapatan dan laba bersih PTBA pada 2025 masing-masing sebesar Rp43,6 triliun dan Rp2,2 triliun. Pada 2026, pendapatan dan laba bersih diproyeksikan sebesar Rp42,9 triliun dan Rp3,2 triliun. Adapun pada 2024, PTBA mencatat pendapatan Rp42,7 triliun dan laba bersih Rp5,1 triliun.
Sukarno dan Helen merekomendasikan hold saham PTBA dengan target harga masing-masing Rp2.670 per saham dan Rp2.400 per saham.
Sementara itu, Lutfi dan Ekky merekomendasikan buy on weakness dengan target harga di kisaran Rp2.900 hingga Rp3.000 per saham.
(R01-R12-Red-BFN)






